Jumat, 30 September 2016

Sri Mulyani: penguatan rupiah tak berarti selalu positif


Pekerja menyusun uang rupiah di cash center Bank Mandiri, Jakarta, Selasa (27/9/2016).
Pekerja menyusun uang rupiah di cash center Bank Mandiri, Jakarta, Selasa (27/9/2016).
© Rosa Panggabean /ANTARAFOTO
Bagi orang awam, melihat penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat adalah kabar yang menggembirakan.
Penurunan nilai tukar, atau dalam bahasa ekonominya "penguatan rupiah" itu diartikan sebagai indikator perbaikan ekonomi. Umumnya, beberapa orang beranggapan dolar yang semakin murah berarti harga-harga sejumlah komoditas juga turun.
Inflasi turun, daya beli masyarakat naik. Kesejahteraan di depan mata. Tapi itu analisis orang awam.
Berbeda dengan Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Bagi jebolan Bank Dunia itu, penguatan rupiah layaknya pedang bermata dua, ada sisi negatif dan positifnya.
Sisi positifnya, betul, penguatan rupiah akan mendorong peningkatan konsumsi dan investasi yang selanjutnya mendorong pertumbuhan ekonomi.
"Ini akan memberikan kepastian kepada para pelaku ekonomi atau pengusaha, terutama yang berbahan baku dari luar negeri," kata Sri dalam lansiran ANTARA.
Tapi, dampak negatifnya adalah turunnya penerimaan dari ekspor. Kemungkinan barang-barang impor masuk ke Indonesia akan lebih besar dan akan menjadi tantangan bagi industri dalam negeri.
Selain itu, penguatan mata uang Garuda ini juga akan memengaruhi kas keuangan negara. Salah satunya, seperti potensi penurunan penerimaan minyak dan gas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Tapi kita akan cari stabilitas jangka menengah panjang," lanjutnya.
Ke depannya, Sri Mulyani mengaku akan mengerahkan seluruh kekuatan pemangku kepentingan untuk memantau dan mengelola seluruh indikator ekonomi karena kondisi perekonomian selalu bergerak dinamis, baik dalam negeri maupun luar negeri.
Sebab kondisi di luar juga masih diliputi ketidakpastian. Rencananya, pekan depan dalam pertemuan para menteri keuangan dari seluruh dunia, diperkirakan akan muncul pernyataan yang menyebut kondisi global masih akan rapuh.
Namun, kondisi ekonomi Indonesia dinilai Sri Mulyani masih akan stabil mengingat adanya persepsi positif terkait dengan implementasi program pengampunan pajak.
"Hal ini akan menimbulkan harapan yang akan memengaruhi jumlah modal yang masuk, dari repatriasi maupun ekspektasi bahwa kondisi ekonomi cukup baik untuk berinvestasi. Ini akan menambah kemungkinan menguatnya mata uang kita," kata Sri Mulyani.
Dari sisi kebutuhan perusahaan-perusahaan untuk membayar utangnya kembali, menurut Sri Mulyani dalam Tempo.co, telah terjadi konsolidasi yang baik selama setahun terakhir. Sehingga, banyak perusahaan yang melakukan stabilisasi dari deklarasi utang luar negeri, dan itu juga memberikan sentimen positif.
Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menambahkan penguatan rupiah juga diperkirakan terjadi karena faktor eksternal berupa debat calon Presiden AS yang memberi nuansa lebih positif kepada suasana pasar finansial.
Namun, menurut dia, faktor amnesti pajak yang diiringi oleh membaiknya kondisi fundamental perekonomian nasional lebih dominan untuk menyumbang penguatan rupiah, hingga saat ini berada pada kisaran Rp12.900 per dolar AS.
"Faktor domestik yang positif ini akan lebih kuat dan membuat rupiah makin apresiatif, apalagi ekonomi Indonesia terus membaik," kata Perry.
Sementara itu, nilai tukar rupiah yang dibuka Jumat (30/9/2016) pagi, bergerak melemah sebesar 16 poin menjadi 12.988 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan Kamis (29/9/2016) di posisi 12.972 per dolar AS.
Pengamat pasar uang dari Bank Woori Suadara Indonesia Tbk, Rully Nova menilai pergerakan nilai tukar rupiah bergerak melemah terhadap dolar AS namun masih terbatas, sebagian pelaku pasar melakukan aksi ambil untung setelah mata uang domestik pada hari sebelumnya mengalami kenaikan.
Rully menambahkan bahwa aksi pelaku pasar itu mengantisipasi data ekonomi domestik yang sedianya akan dirilis pada awal pekan depan. Salah satu data yang menjadi fokus pasar, yakni inflasi September 2016.
"Diperkirakan inflasi masih berada di level rendah, data yang sesuai perkiraan dapat mendorong rupiah kembali terapresiasi," tuturnya.

BACA JUGA:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar